Sabtu, 01 Februari 2014
Kesenian Sandur Kalongking Yang Eksotis Di Tuban
Kagum, haru , sedih dan bercampur dengan prihatin. Begitulah gambaran ungkapan perasaan saya ketika menyaksikan pentas kesenian Sandur Kalongking di kawsan pedesaan daerah Tuban - Jawa Timur belum lama ini.

Kagum dengan keindahan dan eksotisme kesenian tradisional yang sarat nuansa mistis dan magis itu. Sedangkan sedih, haru dan prihatin karena hanya komunitas Sandur Kalongking Ronggo Budoyo pimpinan Bapak Syakrun itulah yang tetap bertahan melestarikan kesenian itu.
Simak : Aksi Lucu Bayi Ber Gangnam Style

Simak : Aksi Lucu Bayi Ber Gangnam Style
Saya tidak bisa membayangkan andai komunitas Sandur kalongking ini tidak sanggup bertahan lagi dalam melestarikannya, entah bagaimana kelanjutan nasibnya. Mungkin kelak Sandur Kalongking hanya menjadi kisah di Tuban yang ditutur tinularkan antar generasi.


Pentas Sandur Kalongking biasanya digelar di tanah lapang .Penonton duduk di sekeliling pementasan. yang dibatasi dengan dipasang tali berbentuk bujur sangkar yang bersisi-sisi sekitar 4 meter dan tinggi sekitar 1,5 meter.





Selain itu juga ada 40 pria dewasa yang berperan sebagai pawang ( dukun ), pemain musik dan panjak hore ( penggermbira ). 40 pria itu mengenakan pakaian serba hitam dengan ikat kepala ( udeng ) yang khas.Mereka senantiasa mengalunkan tembang-tembang Jawa dengan nuansa mantera-mantera sejak awal hingga akhir pertunjukan.Sosok mereka mengingatkan saya pada suku Tengger di yang tinggal di kawasan Gunung Bromo.

Pertunjukan utama dimulai setelah selamatan dan pembacaan tandhuk selesai. Adegan pertama yaitu adegan simbolik bancik endog yang disebut sindhiran. Selanjutnya berturut-turut adegan babad alas (buka ladang), ngrakal (membajak), icir (bertanam), besik (menyemai), sambang tegal (menjenguk ladang) atau ngrujaki (memberi rujak), dan unduh-unduh (menuai).

Di sela-sela tiap adegan diselingi adegan Bancik Endog ( menginjak telur ) Bancik kendi (Menginjak kendi ) , Bancik Dengkul (Menginjak dengkul ) dan Bancik Pundak ( Menginjak Pundak ). Adegan terakhir sebagai penutup yaitu Bandhan yang diteruskan Bandhulan atau Kalongking yang bersifat magis dan akrobatik.

Menjelang adegan terakhir ada salah seorang penari laki-laki jatuh pingsan. Pada saat itu pula para penonton seolah tersentak langsung berdiri dan mendekat kalangan. Penari yang pingsan busana tarinya ditanggalkan dan diikat dengan tali, dimasukkan ke dalam kotak. Setelah beberapa saat dibuka, sang bocah sudah terlepas dari ikatan.. Masih dalam keadaan tak sadar , sang bocah penari dibawa ke tempat tali yang menjulur di tengah arena.

Penari yang kerasukan roh Kalong itu kemudian naik ke atas dengan memanjat tali. Sampai di atas tali yang membentang, bocah itu kemudian menari-nari menirukan gerakan kalong ( kelelawar berukuran besar ) sambil tiduran diatas tali, kadang menggelantung dengan kepala menjulur ke bawah.
Artikel tentang Kerasukan Roh Kalong itu bisa Anda baca di Link berikut ini :
Artikel tentang Kerasukan Roh Kalong itu bisa Anda baca di Link berikut ini :
Kerasukan Roh Kalong Dalam Tarian Sandur Kalongking

====================
Baca juga dan Klik artikel menarik berikut ini :
Menambang Uang Melalui Facebook dan Twitter
Peluang Mendapatkan Dollar Via Internet
Museum Santet Di Surabaya
Tips Memasang Iklan Di Blog
Share Status di Fb/Twitter Dapat Komisi
Jenazah Utuh Dimakamkan 35 Tahun Di Tuban

Click : Nikmatnya Oleh-oleh Khas Tuban
Artikel-artikel Menarik lainnya bisa Anda baca
di Link berikut ini :
www.blogger.comblogspot.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar